Astagfirullah, Praktek Pembunuhan Sadis Kucing Di Negara Ini Marak Terjadi, Dagingnya Dimakan Serta Kulitnya Dijual Untuk Dibuat Tas Dan Dompet
Praktek perdagangan hewan untuk diambil bulunya menuai banyak kecaman karena dianggap sadis.
Di China, kucing menjadi salah satu komoditi perdagangan yang cukup berkembang pesat,
Beberapa praktek perdagangan kucing ilegal dilakukan secara sadis, demi mengambil daging dan bulunya untuk dijual.
Dilansir dari Nextshark, Jumat (27/3/2020), Masyarakat Bebas Bulu, sekelompok sukarelawan sedunia yang berkampanye menentang penggunaan bulu binatang, menjelaskan tentang hal tersebut.
Penjualan daging dan bulu kucing di China terus tumbuh.
Lebih jauh, saat ini juga tidak ada undang-undang yang menentang kekejaman terhadap binatang.
Menurut organisasi nirlaba itu, sebagian besar kucing yang ditangkap dalam perdagangan itu adalah hewan liar.
Kucing-kucing itu tidak pernah dimusnahkan atau dikebiri.
Sehingga mereka terus bereproduksi pada tingkat yang “mengkhawatirkan”.
Selain itu, beberapa orang diduga juga mengambil kucing peliharaan.
Perlakuan seperti itu membuat pemiliknya mencari-cari dan terkadang menemukan kucingnya dalam pembantaian yang menyedihkan.
“Mereka dijual kepada tukang daging yang merebus mereka hidup-hidup.”
“Biar kulitnya menjadi sepatu, sarung tangan, dompet, dll,” klaim kelompok Bebas Bulu tersebut dalam sebuah postingan Facebook.
Postingan itu sontak mengundang banyak perhatian publik.
“Ini menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping.”
“Saya menangis,” komentar salah seorang Pengguna Facebook.
Sementara yang menanyakan hati nurani pelaku tindakan kejam ini.
“Bagaimana orang bisa melakukan tindakan itu?”
Sebenarnya, kegiatan memakan kucing dan anjing di China adalah legal.
Namun itu hanya tindakan minoritas dan jauh dari aktivitas normal yang dilakukan kebanyakan orang.
Pada 2017, sosial media di China bereaksi juga dengan ketakutan terkait seorang pria yang yang ketahuan mengangkut sekitar 500 kucing.
Beberapa diantaranya adalah hewan peliharaan yang dicuri, dimasukkan ke dalam kandang kecil dan hendak dijual ke restoran
Sebuah survei lokal pada tahun yang sama mengungjap bahwa 13% penduduk di Yulin – tempat festival anjing tahunan terkenal di Cina – tidak pernah makan anjing, sementara 59% diantaranya jarang mengonsumsinya.
“Yang benar adalah bahwa makan anjing dan kucing bukan bagian dari praktik kuliner arus utama China bahkan di Yulin, rumah dari festival daging anjing,” kata Peter Li, spesialis kebijakan China untuk Humane Society International.
Di China, kucing menjadi salah satu komoditi perdagangan yang cukup berkembang pesat,
Beberapa praktek perdagangan kucing ilegal dilakukan secara sadis, demi mengambil daging dan bulunya untuk dijual.
Dilansir dari Nextshark, Jumat (27/3/2020), Masyarakat Bebas Bulu, sekelompok sukarelawan sedunia yang berkampanye menentang penggunaan bulu binatang, menjelaskan tentang hal tersebut.
Penjualan daging dan bulu kucing di China terus tumbuh.
Lebih jauh, saat ini juga tidak ada undang-undang yang menentang kekejaman terhadap binatang.
Menurut organisasi nirlaba itu, sebagian besar kucing yang ditangkap dalam perdagangan itu adalah hewan liar.
Kucing-kucing itu tidak pernah dimusnahkan atau dikebiri.
Sehingga mereka terus bereproduksi pada tingkat yang “mengkhawatirkan”.
Selain itu, beberapa orang diduga juga mengambil kucing peliharaan.
Perlakuan seperti itu membuat pemiliknya mencari-cari dan terkadang menemukan kucingnya dalam pembantaian yang menyedihkan.
“Mereka dijual kepada tukang daging yang merebus mereka hidup-hidup.”
“Biar kulitnya menjadi sepatu, sarung tangan, dompet, dll,” klaim kelompok Bebas Bulu tersebut dalam sebuah postingan Facebook.
Postingan itu sontak mengundang banyak perhatian publik.
“Ini menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping.”
“Saya menangis,” komentar salah seorang Pengguna Facebook.
Sementara yang menanyakan hati nurani pelaku tindakan kejam ini.
“Bagaimana orang bisa melakukan tindakan itu?”
Sebenarnya, kegiatan memakan kucing dan anjing di China adalah legal.
Namun itu hanya tindakan minoritas dan jauh dari aktivitas normal yang dilakukan kebanyakan orang.
Pada 2017, sosial media di China bereaksi juga dengan ketakutan terkait seorang pria yang yang ketahuan mengangkut sekitar 500 kucing.
Beberapa diantaranya adalah hewan peliharaan yang dicuri, dimasukkan ke dalam kandang kecil dan hendak dijual ke restoran
Sebuah survei lokal pada tahun yang sama mengungjap bahwa 13% penduduk di Yulin – tempat festival anjing tahunan terkenal di Cina – tidak pernah makan anjing, sementara 59% diantaranya jarang mengonsumsinya.
“Yang benar adalah bahwa makan anjing dan kucing bukan bagian dari praktik kuliner arus utama China bahkan di Yulin, rumah dari festival daging anjing,” kata Peter Li, spesialis kebijakan China untuk Humane Society International.
